Revisi makalah atas nama Novita Suryani

 HORJA DAN MANGUPA



DISUSUN OLEH:

Novita Suryani Harahap 1720100081


Dosen Pengampuh:

Dr. Zainal Efendi Hsb, M.A


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

 PADANGSIDIMPUAN 

T.A 2020





KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin penulis bersyukur atas kehadirat Allah SWT Karena penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Sholawat dan Salam juga penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, selaku pembawa risalah keislaman kepada umatnya. Tidak lupa penulis sangat berterima kasih kepada dosen pengampuh yang telah memberikan penugasan makalah kelompok ini pada perkuliahan Islam Budaya Tapanuli. Makalah ini yang berjudul “HORJA DAN MANGUPA”.

penulis berusaha menyusun makalah ini dengan segala kemampuan, namun penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari segi penulisan maupun segi penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati demi perbaikan makalah selanjutnya.

Semoga makalah ini bisa memberikan informasi dan bermanfaat bagi pembacanya, atas perhatian dan kesempatan yang diberikan untuk membuat makalah ini, penulis ucapkan terima kasih.










 


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4

LATAR BELAKANG 4

BAB II PEMBAHASAN 5

Pengertian Horja dan Mangupa 5

Pelaksanaan Horja dan Mangupa 7

Pandangan Islam Terhadap Horja dan Mangupa 9

BAB III PENUTUP 16

Kesimpulan 16

DAFTAR PUSTAKA 17












BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Adat istiadat, merupakan warisan leluhur yang masih ada di tenggah-tengah masyarakat yang merupakan tatanan yang mengatur kehidupan di masyarakat secara turun-temurun, makanya masyarakat yang beradat lebih tertib dalam menjalankan berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat daripada yang tidak beradat. Banyak bentuk adat-istiadat yang masih dipakai masyarakat di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Misalnya mangupa yang sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu dengan beberapa persyaratan adat yang harus dipenuhi agar upacara adat tersebut dapat terselenggara. Ada banyak macam tradisi mangupa, biasanya dilakukan pada waktu pelaksanaan hajatan secara umum, adakalanya mangupa margondang yang dilakukan pada selamatan disaat seseorang anak laki- laki dari yang punya hajat mendapatkan suatu pekerjaan. Dan ada kalanya mangupa tondi yang biasanya dilaksanakan apabila ada seseorang kecelakaan maka dilaksanakan mangupa tondi guna menjemput kembali semangat orang tersebut yang pudar pasca kecelakaan, sebab pada umumnya orang yang kecelakaan itu sering jera dan kurang mempunyai semangat hidup.

Ada yang beranggapan, bahawa upacara mangupa ini merupakan perbuatan Jahiliyah sehingga sering sekali disebut sebagian orang bid’ah (tidak ada zaman nabi) bahkan sebagian orang menegaskan bahwa tradisi ini berasal dari agama Hindu sebab orang-orang Hindulah yang pertama sekali melaksanakan tradisi ini yaitu mengembalikan ruh pulang kebatangbatang kayu, lalu atas dasar inilah penulis berkeinginan melihat upacara mengupa ini lebih dalam lagi dari perspektif hukum Islam.



BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Horja dan  Mangupa

Mangupa adalah salah satu serangkaian upacara adat di masyarakat Tabagsel yang bertujuan mengembalikan tondi (semanagat) ke badan, upacara adat ini berasal dari Tabagsel Sumatera Utara yang memiliki tata laksana spesifik dan fungsi nasehat, termasuk mengupa tondi kepada mempelai laki-laki dan perempuan untuk pasangan pernikahan yang akan mengarungi bahtera kehidupan. Menurut pakar adat, bahwa tujuan mangupa ini yang merupakan tujuan utamanya adalah untuk menguatkan, meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit, terkejut atau baru lepas dari bahaya. Pada zaman dahulu, orang-orang yang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oleh tondi (roh)nya karena itu perlu diupa-upa agar rohnya kembali yang disebut mulak tondi tu ruma (kembali ruh ke badan). Kala itu nenek moyang, selalu memberikan boras (beras) si pir ni tondi ke atas kepala orang-orang yang diupah. Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi (roh) si sakit harus dikuatkan dan didinginkan.

Namun, istilah boras si pir ni tondi ini tidak cocok lagi dengan kalangan teologi yang menghayati kesatuan pribadi, dan beranggapan bahwa sipanganon (makanan) termasuk beras tadi tidak lagi dianggap memiliki kekuatan magis (menjadi medium berkat) atau sumber kesembuhan, kekuatan, dan keselamatan. Menurut pakar teologi, beras yang diberikan kepada si penerima upah-upah saat sekarang ini diartikan hanyalah sebagai simbol hahorason atau bentuk perhatian kepada orang-orang yang sakit atau terkena musibah, sebab sesungguhnya yang dapat memberikan keberkahan dan keselamatan adalah Allah SWT.

Secara bahasa, belakangan ini mangupa dimaknai sebagai pemberian sedangkan secara istilah adalah suatu ritual yang dilakukan oleh orang yang berhajat dengan mendoa’kan orang yang di diupa-upa (orang yang diupa) agar memperoleh kebaikan, maka oleh sebagian orang menggap bahwa mengupa semacam tradisi mendoakan untuk hal-hal yang baik, bahkan dikalangan masyarakat Tabgsel yang merupakan wilayah Muslim sudah memasukkan nilainilai keislaman kedalam budaya mangupa ini sehingga secara tidak langsung mempengaruhi tradisi budaya mangupa ini.

Upacara mangupa sebaiknya juga memenuhi unsur adat lainnya yang mencakup pisang rahut, hatobangon, raja pamusuk, raja tording balok, raja panusunan bulung dan ulama (pemuka agama). Pisang rahut tergolong dalam kelompok anak boru yaitu anak boru dari anak boru suhut, hatobangon, menurut Diapari adalah wakil-wakil dari setiap marga yang bertempat tinggal dikampung yang mengadakan horja. Raja pamusuk dapat disamakan sebagai ketua kampung pelaksanaan upacara mangupa. Raja tording balok adalah raja-raja yang berasal dari kampung-kampung yang berdekatan dengan kampung yang sedang menyelenggarakan upacara adat, di perantauan raja tording balok juga bisa menjadi raja panusunan bulung dalam setiap paguyuban-paguyuban yang ada.

Upacara mangupa menyajikan perangkat makanan yang diletakkan di atas tampi (niru) dan dialasi oleh bagian ujung daun pisang sebanyak tiga helai, yang mana jenis makanan yang digunakan di dalam mangupa menentukan besar kecilnya pesta pernikahan, makanan yang diolah dari hewan yang disajikan dalam perangakat tersebut menandakan tingkatan besar kecilnya mangupa yang sedang dilaksanakan. Ada kalanya yang disajikan adalah pira manuk na di hobolan (telur ayam), manuk (ayam), hambeng (kambing), dan horbo (kerbau). 

Tingakatan dalam mangupa dalam pesta adat kecil dan mendasar paling sedikit memenuhi bahan penting sebutir telur ayam, tingkat kedua menyembeli ayam, tingkatan menyembeli kambing, dan tingkatan tertinggi menyembeli kerbau. Setiap tingkatan mangupa yang lebih tinggi menyembeli hewan berupa kerbau, hidangan pangupa itu harus dipadukan juga dengan berbagai hidangan dan perangkat pangupa yang lain.

Pelaksanaan Horja dan Mangupa

Perangakat pangupa diletakkan oleh pembawa acara di hadapan yang diupa, dan apabila upacara itu mengupa pengantin maka dihadapan kedua pengantin, di sebelah kiri dan kanan perangkat pangupa diletakkan masing-masing satu piring pangupa yang lain yang isinya adalah ikan dan daging ayam. Satu pring diletakkan dihadapan kelompok kahanggi dan piring yang lain di hadapan anak boru. Orang kaya membuka acara dengan sambutan yang biasanya seperti ini:

“Jagit bo tulang burangir on,jagit bo nantulang burangir sirara unduk sibontar adopadop. Sataon so ra busuk, sabulan so ra malos, “Sumurdu burangir nami di hamu, di hananaek ni mata ni ari on, anso manaek matua, hamomora, hahorasan dohot hagabean di hamu na diadopkon ni pangupa on. Nadung lolot do on tarniat di andora suhut sihabolonan. Jadi na palaluhon ma sadarion niat ni roha nadung lolot tarsimpan di bagasan sitamunang ni morangkon. Hara godang ni roha i, nipasu baga-baga on. Jadi onpe patotor hamu ma sanga songon dia natumbuk mangihutkon partamana di bagasan adat i. Laho paboahan sinta-sinta dohot haul ni roha adop Tuhanta Na Uli Basa i. Anso denggan mardalan karejonta on, jana anso saut dohot tulus na di parsinta ni rohanta i. Jadi sannari kehe ma tu suhut sihabolanan”. 

Artinya : “Terimalah tulang (mamak pengantin laki-laki) sirih ini, terimalah nantulang (isteri mamak pengantin laki-laki) sirih ini, sirih yang merah yang bagian belakang dan putih bagian depan. Setahun tidak akan busuk, sebulan tidak akan layu. Kami persembahkan sirih kami kepada kamu, ketika matahari mulai naik, agar naik pula tuah, derajat, kesehatan dan kejayaan kepada kamu berdua yang sedang disajikan pangupa ini. Sudah lama terniat bagi suhut sihabolonan (orang tua laki-laki dan kahangginya). Jadi dilaksanakanlah hari ini niat yang sudah lama tersimpan di dalam hati mora saya ini. Karena kami sangat berbahagia, maka dilaksanakanlah upacara yang mengandung harapan ini. Dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan mayarakat batak. Nenek moyang kita membeca ketika memasak membutuhkan tiga batu atau tiga tungku yang seimbang dalam memasak. Jadi dari ini, perlu menciptakan tiga tatanan kemasyarakatan yang seimbang, itulah mora, kahanggi, dan anak boru.

Jadi dalam hal ini sampaikanlah apa yang tepat menurut adat. Kemudian sampaikanlah angan-angan kamu selama ini dan niat dalam hati kepada Tuhan kita, yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang itu agar berjalan lancar acara kita ini dan terlaksana apa yang kita inginkan. Sekarang giliran suhut sihabolanan menyampaikan hata mangupa”.

Orang kaya kemudian melanjutkan mangupa dengan mempersilahkan berbagai pihak untuk menyampaikan hata mangupa, orang kaya harus mendahulukan pihak ibu-ibu menyampaikan hata pangupa. Kelompok ibu-ibu yang menyampaikan hata pangupa adalah suhut, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut. Hata mangupa dari suhut sihabolanan, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut dari pihak ibu-ibu. Suhut sihabolanan (tuan rumah yang punya hajat) yang pertama menyampaikan hata pangupa adalah ibu kandung pengantin laki-laki. Dia menguraikan maksud pertemuan adat ini dan maksud pangupa agar semua yang hadir secara resmi mengetahui. Dia menyampaikan hata pangupa penuh keharusan dan biasanya sambil menangis-menangis karena bahagia. Kemudian giliran hata pangupa kepada kahanggi, anak boru dan pisang rahut diberikan kepada kelompok barisan atau kelompok ibu-ibu. 

Hata pangupa dari suhut sihabolanan, kahanggi dan anak boru, dan hatobangon dari pihak bapak-bapak. Giliran pertama dari kelompok bapak-bapak adalah suhut sihabolonan, yaitu tuan rumah, dalam hal ini ayah dari pengantin laki-laki. Setelah itu, Orang kaya kemudian akan memperselisihkan kahanggi untuk memberi hata pangupa. Isi hata pangupa dari kahanggi umumnya sama dengan hata-hata upa-upa atau pangupa dari suhut. Setelah kahanggi memberikan hata pangupa, kemudian tiba giliran anak boru dan hatobangon dari pihak bapak-bapak untuk memberikan hata pangupa, yang isinya pada umumnya sama dengan isi hata pangupa dari anak boru pihak ibu-ibu yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya.

Terakhir adalah penutup, yang mana yang diupa mencicipi hidangan pangupa dan memberikan hata pangupa, misalnya dalam acara mangupa kedua maka kedua pengantin mecicipi hidangan pangupa tersebut. Ketika mencicipi makanan atau hidangan pangupa tersebut, si pegantin harus memakan telur yang ada mulai dari putih telur dan bagian kuning telurnya, setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sedikit garam dan nasi. Kemudian akhir upacara mangupa ditutup dengan jawaban dari sepasang pengantin setelah kedua pengantin mencicipi hidangan pangupa, mereka dipersilakan menyampaikan kata-kata jawaban dari hata pangupa dari berbagai kalangan di atas. Isi jawaban sambutan mereka umumnya adalah ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah bersusah payah melaksanakan upacara adat yang sangat megah dan sakral itu.

Selain itu, dalam menyelenggarakan mangupa memiliki pantangan (larangan) mulai apabila unsur dalihan na tolu tidak terpenuhi atau tidak hadir dalam acara adat mangupa tersebut maka acara mangupa kurang sempurna dilaksanakan, kettidak hadiran harajaon pada upacara mangupa. Dan bahan atau hewan penting pangupa tidak terpenuhi maka pelaksanaan mangupa semacam ini kurang sempurna.

Pandangan Islam Terhadap Horja dan Mangupa

Sebenarnya, sangat banyak nilai yang terkandung di dalam upacara mangupa selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi kebadan), sebab orang dahulu mengenal istilah paulak tondi tu bagas yang beranggapan bahwa pada saat seseorang ditimpah suatu peristiwa, seperti kecelakan maka tondi atau rohnya tengah terpisah dari tubuhnya sehingga perlu ditarik kembali. Tondi adalah kekuatan batin yang apabila itu terganggu maka manusia itu akan mengalami penyakit mental yang mengakibatkan ia tertekan dan goncangan jiwa, sebagaimana dalam adat Tabagsel disebut horas tondi madingin pir tondi matogu (selamat, semoga semangatya sejuk dan keras semangat). Inilah ungkapan yang sering diungkapkan kepada orang yang diupah. Sebab, dalam pandangan masyarakat Tabagsel bahwa manusia terdiri dari tiga bagian yaitu badan, jiwa atau roh, dan tondi. Badan adalah jasad yang kasar dan nyata, jiwa atau roh adalah benda abstrak yang menggerakkan badan kasar dan tondi benda abstrak yang mengisi dan menuntun badan kasar dan jiwa dengan tuah sehingga seseorang kelihatan berwibawa dan bermarwah. Tondi adalah kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang dan kukuh dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi merupakan zat yang berdiri sendiri dalam keadaan tidak sadar tondi seseorang berada di luar badan dan jiwanya.

Seseorang yang memiliki tondi akan sanggup menghadapi setiap ancaman dari luar, namun orang-orang yang tidak mempunyai tondi mukanya akan pucat dan tidak bergairah walaupu kadar tondi berbeda untuk setiap orang, tetapi setiap orang memiliki tondi tersebut, yang mana tondi itu bisa saja berpisah dari badan seeorang karena sesuatu hal, namun tondi yang telah hilang dari badan dapat dipanggil kembali melalui acara adat yang disebut mengupa.

Maka pada hakekatnya, acara mangupa ini adalah memberi dorongan moral kepada sang korban agar tidak takut tetapi patut bersyukur kehadirat Allah SWT yang telah menyelamatkannya, maka orang-orang terdahulu apabila selamat dari maut (musibah yang mengerikan) misalnya selamat dari peristiwa tragedi kapal tenggelam atau selamat dari terkaman seekor Harimau maka menurut nenek moyang dahulu si korban selamat tersebut wajib diupa-upa, maka orang tuanya akan merebus sebutir telur ayam, nasi kunyit, ayam panggang untuk disuapkan pada korban yang selamat tersebut sebagai salah satu bentuk mangupa atau mengembalikan sprit (semangat) kembali. Selain itu, acara mangupa juga dilaksanakan dengan cara memotong hewan bebek, kambing, ataupun kerbau apabila ingin menyelenggarakan acara mangupa berskala besar dengan melibatkan banyak anggota keluarga dan masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga.Metafora pada bahan pangupa, memiliki filosofis seperti bahan pangupa menggunakan manuk (ayam) karena sifat ayam sangat bagus di dalam merawat anak-anaknya, yang mana apabila ayam mengais-ngais (mencari makan) lalu mendapatkan makanan maka makanan yang pertamatama akan diberikan adalah kepada anak-anaknya. Maka dalam adat upacara mangupa pernikahan sering menggunakan bahan ini sebagai bahan pengupa. Maka apabila dicermati bahwa filosifis hata-hata mangupa dan makna filosofis bahan pengupa yang bertujuan supaya ilokusi dari hata-hata dan bahan pangupa tersebut menjadi nasehat yang kemudian dilaksanakan yang bersangkutan (orang yang diupa). Adapun nilai-nilai dalam horja dan mangupa ialah :

Nilai kerukunan berumah tangga 

Nilai menjaga kerukunan berumah tangga dikandung oleh nasehat-nasehat yang terkandung dalam hata pangupa, petikan nasehat yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan berumah tangga. Terutama dalam mangupa pengantin, maka biasanya dibarengkan dengan acara mangulosi yaitutu pemberian kain tenun khas Batak yang diberi nama ulos yang memiliki atau sebagai simbol perlindungan dari segala cuaca. Menurut sebagian orang, bahwa memberikan ulos ini tidak sembarangan orang bisa mangulosi atau memberi ulos, biasanya yang mangulosi disebut dengan hula-hula atau orang-orang yang dituakan dalam adat Batak. Ulos mempunyai corak dan motif yang juga mempunyai makna-makna yang unik, seperti tiga warna dasar kain ulos yaitu merah, putih dan hitam. Tiga warna ini menandakan siapa yang berhak memakainya. Untuk warna merah dipakai oleh pihak dongantubu atau keluarga semarga, putih untuk pihak boru atau pihak keluarga suami, dan hitam untuk hula-hula yaitu pihak keluarga wanita. 

Bahkan, dalam upacara pernikahan adat Tabgsel juga dikenal dengan acara mengupa dengan menggunakan ikan mas yang hidup di air yang jernih dan mempunyai anak yang banyak, yang mengandung makna dan harapan agar pengantin yang diua tersebut menjadi keluarga yang bahagia dengan mempunyai keturunan yang banyak pula. 

Nilai spiritual 

Harapan doa agar kedua pengantin mendapatkan rumah tangga yang langgeng dan memperoleh keturunan anak yang baik-baik. Fungsionaris adat juga mengharapkan dan mendoakan agar rumah tangga yang akan dibina oleh kedua pengantin selalu diberkahi oleh Allah SWT, karena kesatuan unsur harapan dan doa merupakan fungsi penting dalam pelaksanaan upacara mangupa. Bahkan, terkadang upacara mangupa hampir mirip dengan dengan syukuran yaitu ungkapan syukur kepada Allah SWT telah menyelamatkan seseorang dari mara bahaya, yang mana saat upacara mangupa seorang yang selamat dari sebuah pristiwa maka sering perangkat adat menyuapi orang yang diupa semabari mengucapkan kasih sayang Allah SWT yang telah melepaskan dirimu dari marabahaya, sebab yang namanya hidup itu pasti ada suka dan duka yang datang sili berganti, namun semua itu pasti ada hikmahnya dan yang sangat kami syukuri bahwa Allah SWT telah menyelamatkan dirimu meskipun mengalami rasa syok (takut).

Kegiatan mangupa, oleh sebagian orang menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral karena sebagian besar pokok pikiran yang disampaikan dalam acara mangupa ini ada hal-hal yang berkenaan dengan konsep amar ma’ruf nahyi munkar (mengedepankan kebaikan dan menghindari perbuatan yang tidak baik). Dari sisi lainnya, mangupa juga memiliki tendensi yang sama sekali tujuannya untuk memberikan sebuah nasihat (marsipaingot). Tradisi marsipaingot disampaikan kepada sepasang pengantin baru, dan nasihat yang disampaikan tentunya tidak terlepas dari ajaran agama Islam, agar kedua mampelai dari pengantin baru tersebut terus senantiasa untuk mentaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW , yaitu dengan menegakkan shalat yang merupakan sebagai tiang agama Islam, menghormati dan menyayang orang tua, sanak keluarga (mora, kahanggi, dan anak boru). Selanjutnya kepada seorang anak yang akan pergi merantau disampaikan agar jangan lupa shalat, teguh dan gigih mencari rezeki, jujur, amanah, dan lebih utamanya diharapkan untuk tidak pernah melupakan asal-usulnya, yaitu kampung halaman.

Nilai Sosial

Acara mangupa juga sering terdapat dalam acara syukuran (selamatan), untuk memberikan selamat pada kelahiran anak atau ketika anak dewasa dan memperoleh pekerjaan juga dilakukan acara mangupa, tidak hanya acara mangupa tondi untuk mensyukuri keselamat dari kecelakaan yang menimpahnya yang bertujuan untuk mengembalikan semangat supaya tidak trauma saat mengingat terjadinya kecelakaan tersebut. Upacara tradisi mangupa ini, kelihatan rumit tetapi sarat makna dan menimbulkan rasa keakraban yang muncul dari setiap ritualnya sehingga tidak heran apabila orang-orang Tabagsel masih memegang adat kekeluargaan dan saling menghormati serta menyayangi satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana tergambar dalam petuah (nasehat) dalam mangupa pada umumnya merupakan petunjuk hidup masyarakat, sebagaimana disebutkan Elfitriana Kaspy Lubis yang mengatakan pature na di luar ni bagas/ malo mamasukkon diri tu kaum kahanggi/ angkot diraban halak dohot / tale, anso manjagit na denggan iba/ tarpayak di bulung ujung/ di anduri na marbingke maldo/ tardok pangalaho na madung marujung/ on pe mulai sian sannari malo ma hamu marpanggalaho/ horbo saeto tanduk/ boti mangasa gogo/ malo hamu marbisuk/ songon i marpanggalaho (Bina masyarakat mu/ pande mamasukkan diri kepada seluruh keluarga/ selalu berbuat baik kepada orang/ agar kita selalu menerima kebaikan/ terletak di daun ujung/ di atas tampi bertangkai rotan/ setiap tingkah laku sudah berujung/ sejak saat hati-hati kamu berprilaku/ kerbau bertanduk sehasta/ bahkan bertenaga kuat/ kamu mesti berbaik budi/ begitu juga berprilaku.

Apabila tradisi mangupa ini, memberikan kesan silaturrahmi maka dengan demikian upacara mengupa ini patut dilaksanakan orang Muslim mengingat pentingnya menjalin silaturrahmi dalam Islam. Sebab, ajaran Islam merupakan agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangkah mewujudkan ukhuwah islamiyah dengan cara mengunjungi sanak keluarga dan saudara. Bahkan dalam sebuah ayat al-Qur’an ditegaskan bahwa menyambungkan silaturrahmi adalah merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan sangat diperintahkan Allah SWT.


Artinya: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah SWT perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21).

Lebih jauh lagi, upacara mangupa ini seutuhnya tidak bertentangan dengan agama Islam karena tidak ada hal-hal haram di dalamnya, sedangkan cara pangupa ini pun hanya memanggil tondi (semangat) bukan roh-roh yang mati, adapun yang diupa dapat percaya diri dimana tondi itu sudah kembali melihat dengan badan dan mendapat ridha dari Allah SWT, memanggil tondi sudah dilakukan oleh nenek moyang Tabagsel sampai masuknya agama Islam. Terlebih-lebih bahan-bahan yang digunakan pada upacara mangupa tidak bersentuhan dengan yang haram sperti alat-alat pangupa yang digunakan masyarakat Muslim Tabagsel induri (panampi), diolari dengan daun pisang yang diambil dari ujung daunnya, dan kain ulos adat. Begitu juga, pengisiannya adalah nasi putih, kepala Kerbu atau kepala Kambing menurut besarnya adat yang akan diupah. Dapat juga dibuat telur, bagi pangupa yang baru sembuh dari sakit, daging ayam, garam, ikn sale, udang dan ikan kecil-kecil yang terdapat di sungai.








BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Upacara mangupa, merupakan salah satu adat masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) dalam suatu acara tertentu termasuk acara pernikahan, dimana dalam upacara adat ini sebagai realisasi hajat suatu keluarga yang ingin disampaikan dengan memberikan doa kepada objek yang diupa melalui dengan cara upa- upa untuk menjemput (menumbuhkan kembali) semangat orang yang di upa- upa tersebut.

Sebagian ulama, tidak melarang praktek adat upara mangupa ini yang memiliki beberapa aspek positif yang terkandung didalamnya mulai nilai nasihat, doa, mempererat silaturrahim, memupuk rasa syukur, dan pengembalian serta elaborasi spirit. Sepanjang praktek adat upacara mangupa tersebut tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.















DAPTAR PUSTAKA

Basyir, Ahmad Azhar,. Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Press Yogyakarta, 2000.

Diapari, Adat Istiadat Perkawinan dalam Masyarakat Tapanuli Selatan, Jakarta: Gelar Patuan Naga Humala Parlindungan, 1990.

HJ. Enggink, Angkola En Mandailing Bataksch Nederlandsch Woordenboek, Bandung: A.C. NIK & CO, 1936.

Hadikusuma, Hilman,. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung: Rineka Cipta, 2003.

Marpondang, DJ. Gultom Raja, Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak, Medan: CV. Armanda 1992.

Nuraini, Cut,. Permukiman Suku Batak Mandailing, Yogyakarta: Gadjah Mada Press 2004.

Parlindungan, Humala,. Adat Istiadat Perkawinan dalam Masyarakat Batak Tapanuli Selatan, Jakarta: Bumi Insani, 1990.

Rahman, Abdur, Perkawinan Dalam Syariat Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Suhunan, Hamzah,. Diktat Hukum Adat, Medan: Fakultas Hukum USU, 1960.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

6 cara mencegah agar terhindar COVID-19 secara islami

pendidikan dengan dakwah tentang (KISAH LELAKI BELANG, BOTAK DAN BUTA)

relasi agama dan kesehatan dalam persepektif islam dan sains